Nazarene Space

Liturgi Nasrani

 


Damai sejahtera menyertai anda sekalian.

Banyak orang bertanya-tanya bagaimana kaum Nasrani beribadah - apakah dengan memakai tata cara Kristen atau dengan tata cara Yudaisme. Banyak hal yang
hendak ditulis, tetapi karena keterbatasan waktu penulis hanya bisa
menceritakan bagaimana ibadat seorang Nasrani dalam kesehariannya.
Kiranya melalui tulisan sederhana ini penulis dapat memberikan sedikit
gambaran.

Meneladani Mesias

Sesuai dengan tujuan kami untuk kembali kepada ajaran Kristus dalam konteks aslinya, kami berusaha untuk mengikuti apa yang telah dipraktekkan,
diajarkan, serta dicontohkan oleh Yesus selama hidupNya (Latin: imitatio christi), seperti dipesankan oleh rasul Yohanes:

"Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1Yoh 2:6)

Teladan inilah yang diikuti oleh jemaat pertama di Yerusalem (Kisah Para Rasul 2:41-47, Kis 21:20). Seperti
yang telah saya bahas dalam tulisan-tulisan saya yang lain, jemaat
pertama sama sekali tidak meninggalkan tata-cara peribadatan yang lama.
Yesus sendiri tidak pernah menghendaki para pengikutNya untuk
menghentikan tata-cara peribadatan (custom) yang lama. Yang
Yesus inginkan sebenarnya adalah adanya perubahan motivasi dan tujuan
beribadat dari tiap-tiap individu. Jadi bukan custom-nya yang hendak diubah tetapi motivasi dan tujuannya.(1)

Tefilah : Doa

"Tetapi kamu haruslah beribadah kepada TUHAN Allahmu, maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari
tengah-tengahmu."
(Keluaran 23:25)

Ini adalah perintah untuk berdoa yang diucapkan Tuhan di hadapan Musa dan bangsa Israel. Kata doa dalam bahasa Ibrani adalah tefilah. Kata ini diturunkan dari akar kata peh-lamed-lamed dan l’hitpalel, yang memiliki arti "menilai diri". Dari akar katanya tersebut, kata doa menunjukkan hakekat sebenarnya dari doa itu sendiri. Doa adalah suatu
momen buat kita untuk mengintropeksi diri serta menilai kembali
hubungan kita dengan Tuhan dan peranan kita di dunia ini. Doa
seharusnya menjadi lebih dari sekedar rutinitas yang kita lakukan di
rumah ibadat atau yang kita lakukan setiap hari. Doa selayaknya menjadi
pengingat kita akan keberadaan Tuhan dan hubungan kita denganNya. Oleh
sebab itu kita harus senantiasa berdoa terhadapNya.

Pengucapan Shema adalah perintah untuk berdoa yang paling tua dan yang paling utama. Perintah untuk melakukan doa ini tertulis dalam Ulangan 6:4-9 dan
Ulangan 11:13-21 Disana dikatakan bahwa kita harus mengucapkannya
"apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." Itulah sebabnya
kita melakukannya dua kali sehari, di malam hari dan di pagi hari.
Bunyi shema adalah demikian : "Shema, Yisrael, Adonai Eloheynu, Adonai Echad"
yang artinya "dengarlah atau taatilah, hai Israel, TUHAN itu Allah
kita, TUHAN itu esa". (Perhatian : bunyi shema tersebut adalah dalam
bahasa Ibrani meski demikian doa sebenarnya bebas diucapkan dalam
bahasa apapun.)

Perintah untuk mengucapkan Shema ini bukan saja sebuah perintah untuk berdoa tetapi juga menjadi hukum yang paling utama dalam Taurat dimana lewat Shema
kita mengakui iman kita kepada TUHAN serta mengakui akan keesaanNya.
Perhatikan jawaban yang Yesus berikan ketika seorang ahli Taurat
bertanya : "Guru, hukum manakah yang paling utama ?"

Jawab Yesus : "Hukum yang terutama ialah : Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa." (Markus 12:29)

Kemudian dalam perkembangan selanjutnya muncul ibadah doa yang resmi. Hal ini terjadi selama masa pembuangan bangsa Israel ke Babylonia. Saat itu bangsa
Israel tidak dapat lagi melakukan persembahan di Bait Allah sehingga
mereka melakukan doa sebagai ganti persembahan. "Persembahkan bibirmu
sebagai ganti lembu", begitu ucap nabi Hosea. Sejak itulah muncul
ibadah doa yang dilakukan tiga kali sehari, pada malam hari (Ma’ariv), di pagi hari (Shacharit), dan di siang hari (Minchah). Dalam kitab Daniel 6:11, kita mengetahui bahwa nabi Daniel adalah salah seorang yang mempraktekkan ibadah ini.

Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang
biasa dilakukannya.
(Daniel 6:11)

Setelah masa pembuangan, ibadah ini terus berlaku. Kemudian pada abad kelima imam Ezra bersama-sama imam lainnya mengumpulkan pokok-pokok doa yang dinamakan Shemoneh Esrei.
Pokok-pokok doa ini dinamakan Shemoneh Esrei karena mengandung 18 buah
ucapan berkat namun terkadang lebih populer dengan sebutan Amidah (artinya berdiri, karena kita berdiri saat berdoa) atau bahkan cuma disebut dengan Tefilah
saja.(2) Dalam Amidah inilah biasanya kita menyampaikan doa-doa pribadi
kita kepada Tuhan (pujian, permintaan, pengampunan, dan sebagainya).

Hal lain yang tak kalah penting dalam ibadah doa adalah pembacaan kitab Taurat (keriath ha-Torah). Setiap hari Sabat satu bagian (sidra, jamak: sidrot) dari Taurat dibacakan untuk dipelajari selama satu minggu tersebut. Sidra-sidra tersebut dibagi lagi dalam sejumlah parshah (jamak: parshot). Kitab Taurat dibagi atas 54 sidrot (lihat appendix). Biasanya beberapa parshah tertentu yang agak pendek dibacakan berturut-turut sehingga
keseluruhan Taurat dapat diselesaikan dalam satu tahun. Pada masa raja
Antiokhus dari dinasti Seleukos, umat Yahudi sempat dilarang untuk
melakukan pembacaan Taurat oleh sebab itu sebagai gantinya mereka
membaca kitab para nabi yang isinya berkaitan dengan sidra minggu itu.
Pembacaan ini dinamakan Haftarah (penutup).
Tradisi ini kemudian terus berlanjut. Pembacaan Taurat dan kitab para
nabi ini selalu diadakan dengan upacara besar: kitab Taurat diusung
berkeliling ruangan sebelum dibawa ke atas bimah (mimbar),
dan merupakan kehormatan besar bagi setiap orang untuk mendapatkan
kesempatan mengucapkan berkat atas pembacaan Taurat pada hari itu
(kehormatan ini disebut Aliyah). Kita tahu bahwa
pada zaman Yesus, tradisi ini sudah menjadi kebiasaan umum di
rumah-rumah ibadat (baca: sinagoga). Ini bisa terlihat dari ucapan
Yakobus di hadapan para penatua jemaat lainnya dalam Kisah Para Rasul.

"Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah
ibadat."
(Kisah Para Rasul 15:21)

Yesus sendiri beberapa kali diceritakan, bukan saja memperoleh kehormatan sebagai aliyah, bahkan diberi kehormatan besar untuk menjadi pengajar Taurat ! (Lukas
4:16, lihat pula Markus 1:21 dan Lukas 4:31)

Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaanNya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari
Alkitab.
(Lukas 4:16)

Dalam liturgi Nasrani, pembacaan Haftarah bukan saja mencakup pembacaan Nebiim (kitab para nabi) dan Kethubim (mazmur, amsal, dsb) tetapi telah diperluas dengan
memasukkan Kethubim Netzarim (yakni kitab-kitab
Perjanjian Baru) sebagai materi bacaan. Ayat-ayat yang diambil tetap
mengikuti aturan umum pembacaan Haftarah yakni ayat-ayat yang
berhubungan dengan pembacaan Taurat minggu itu. Di luar itu, seorang
Nasrani sah-sah saja untuk membaca atau mempelajari bagian-bagian lain
dari Alkitab yang ia inginkan.

Ibadah doa lain yang juga penting adalah Aleinu, yakni doa yang diucapkan pada atau menjelang akhir ibadah. Isinya kurang lebih merupakan puji-pujian kepada Tuhan. Disamping itu ada
semacam puji-pujian yang diucapkan tepat sebelum doa pagi hari, semacam
pemanasan kalau boleh dibilang begitu. Puji-pujian ini dinamakan Pesukei d’Zemira
(ayat-ayat nyanyian) - isinya biasanya berupa mazmur dan
nyanyian-nyanyian. Pada hari Sabat atau hari-hari raya, doa pagi hari
biasanya diikuti pula dengan doa tambahan yang disebut Musaf. Dan pada hari-hari raya tertentu, biasanya juga ditambahkan dengan pembacaan Hallel yakni ayat-ayat dari Mazmur 113-118.

Berakhot : ucapan-ucapan berkat

Berakhah (jamak: berakhot) adalah semacam doa khusus yang sangat umum dalam ibadah Yahudi. Berakhah biasanya mudah dikenali karena selalu diawali dengan kalimat "Barukh atah Adonai, Eloheynu, melekh ha-olam" yang artinya "Terpujilah Engkau, TUHAN, Allah kami, penguasa semesta alam".

Kata barukh dan berakhah adalah dua kata yang sama-sama berasal dari akar kata Bet-Resh-Kaf, yang dalam bahasa Ibrani berarti lutut dan mengacu kepada praktik menunjukkan rasa hormat dengan bersujud. Posisi sujud ini biasanya
dilakukan setiap kali berakhah diucapkan oleh pimpinan ibadah. Berakhah
dibedakan atas tiga macam yakni yang diucapkan sebelum menikmati
kesenangan duniawi (birkhot ha-na’ah), yang diucapkan sebelum menjalankan mitzvah (birkhot ha-mitzvot) dan yang diucapkan pada saat-saat atau kejadian khusus (birkhot hoda’ah). Hampir seluruh format berakhot disusun pada masa imam Ezra - kira-kira 2500 tahun yang lalu.

Birkat Ha-Mazon : doa ucapan syukur sesudah makan

Salah satu doa yang terpenting adalah birkat ha-mazon yakni doa ucapan syukur sesudah makan. Doa ini didasarkan atas kalimat yang terdapat dalam kitab Taurat.

"Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu". (Ulangan 8:10)

Dalam tradisi Yahudi birkat ha-mazon ini terdiri atas empat bagian : birkat hazan (ucapan syukur atas penyediaan makanan oleh Tuhan), birkat ha-Aretz (ucapan syukur karena Tuhan telah membawa bangsa Israel ke tanah Perjanjian), birkat Yerushalayim (ucapan syukur atas Yerusalem), dan birkat ha-Tov v’Ha-Maytiv (ucapan syukur atas kebaikan Tuhan).

Doa Bapa Kami

Salah satu doa yang membedakan kaum Nasrani dengan jemaat Yahudi lainnya di masa itu adalah doa yang diajarkan Yesus kepada mereka. Umat Kristen
biasanya menyebutnya dengan Doa Bapa Kami menuruti kalimat pertama
dalam doa tersebut. Tiap-tiap poin yang terkandung dalam Doa Bapa Kami
(Matius 6:9-13) sesungguhnya mewakili 18 ucapan berkat yang terdapat di
dalam Shemoneh Eshrei. Poin-poin tersebut adalah :

  1. Bapa kami yang ada di sorga. (ayat 9)

    Poin pertama ini menunjukkan kepada siapa kita mengajukan doa tersebut yakni kepada Bapa, bukan kepada Yesus sendiri, atau kepada Maria, atau bahkan kepada
    para santo dan orang-orang suci. Disini Yesus – sama seperti orang
    Yahudi lainnya – sangat sungkan untuk menyebut nama Tuhan secara
    langsung. Ia mengajarkan penggunaan kata Bapa sebagai gantinya. Kata
    Bapa mengingatkan hubungan kita dengan Allah yang bagaikan seorang anak
    dengan ayahnya. Dengan mengajarkan hal ini, Yesus mengingatkan kita
    akan makna dari ayat di bawah ini.

    "Maka haruslah engkau insaf bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya. Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang
    kepada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang
    ditunjukkanNya dan dengan takut akan Dia." (
    Ulangan 8:4-5)

    Poin ini mewakili ucapan berkat kesatu hingga keempat dalam Shemoneh Esrei.

  2. Dikuduskanlah namaMu, datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga. (ayat 10)

    Ini merupakan semacam ucapan berkat yang umum dibacakan dalam doa orang Yahudi. Seperti yang telah disebutkan di atas, kita mengenal berbagai ucapan berkat dan
    biasanya selalu diawali dengan kalimat "Terpujilah Engkau TUHAN, Allah
    kami, penguasa alam semesta yang telah menyucikan kami dengan
    perintah-perintahMu". Perhatikan ada empat kesamaan disini yakni :
    berkat/pujian, nama TUHAN, raja/penguasa, dan kehendak/perintah.

    Poin ini mewakili ucapan berkat kesebelas hingga ketujuhbelas dalam Shemoneh Esrei.

  3. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. (ayat 11)

    Poin ini mewakili ucapan berkat ketujuh hingga kesepuluh dalam Shemoneh Esrei.

  4. Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. (ayat 12)

    Poin ini mewakili ucapan berkat kelima dan keenam dalam Shemoneh Esrei.

  5. Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat. (ayat 13)

    Poin ini mewakili ucapan berkat ketigabelas dalam Shemoneh Esrei.

  6. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin. (ayat 13)

Poin ini mewakili ucapan berkat kedelapanbelas dalam Shemoneh Esrei.


Doa Bapa Kami sesungguhnya merupakan versi pendek dari Shemoneh Esrei dan memang itulah yang dihendaki oleh Yesus yakni agar kita tidak berdoa dengan
bertele-tele. Coba anda baca perkataan Yesus sebelumnya dalam Matius 6.

Garis besar susunan ibadah doa sehari-hari

1. Doa Malam (Ma’ariv)


  • Shema
  • Shemoneh Esrei
  • Aleinu

2. Doa Pagi (Shacharit)


  • Shema
  • Shemoneh Esrei
  • Aleinu

3. Doa Siang (Minchah)


  • Ashrei (Mazmur 145)
  • Shemoneh Esrei
  • Aleinu

(Perhatian : Umat Nasrani tidak pernah dibatasi untuk menyediakan waktu berdoa. Anda bebas berdoa di luar waktu yang telah ditentukan di atas. Dalam Mazmur
kita tahu bahwa Daud mengadakan puji-pujian kepada Tuhan tujuh kali
sehari. Menurut tradisi Yahudi ada pula suatu ketentuan bahwa seseorang
harus mengucapkan 100 berakhot setiap harinya ! Namun jangan sampai
kita terjebak dalam pengertian yang salah. Dalam ibadah bukanlah
kuantitas, frekuensi, atau rutinitas yang menyenangkan hati Tuhan
melainkan kasih setia yang kita tunjukkan kepadaNya.)

Kiblat

Ketika berdoa, sebisa mungkin kita mengarahkan pandangan kita ke Bait Allah di Yerusalem. Alkitab menerangkan dalam I Raja-raja 8:44-49 dan II
Tawarikh 6:34-39:

"[Salomo berdoa:]...dan apabila mereka berdoa kepada TUHAN dengan berkiblat ke kota yang telah Kau pilih dan rumah yang telah kudirikan bagi namaMu,
maka Engkau kiranya mendengarkan di sorga doa dan permohonan mereka dan
Engkau kiranya memberikan keadilan kepada mereka."
(I Raja 44-45)

Perhatikan kalimat dalam doa Salomo : "dan apabila mereka berdoa kepada TUHAN dengan berkiblat ke kota yang Kau pilih". Perbuatan berkiblat sebenarnya merupakan
penekanan terhadap ibadah doa mereka yakni "kepada TUHAN". Pada zaman
Salomo banyak kota di dunia yang menjadi pusat-pusat penyembahan
berhala. Dengan menyatukan arah ke Yerusalem mereka hendak menyatakan
bahwa hanya kepada TUHAN, Allah Israel, mereka beribadah. Dengan
demikian mereka menjadi yakin bahwa mereka sedang menyembah Allah yang
benar. Bukan kepada allah-allah lain yang disembah bangsa-bangsa lain
di Tirus, di Sidon, di Mesir, di Babel, dan sebagainya.

Praktek kiblat ini terus dilakukan bangsa Israel pada masa pembuangan. Ini merupakan hal yang menarik untuk diperhatikan. Kita tahu bahwa pada masa itu Bait Allah
yang didirikan Salomo telah dihancurkan oleh serbuan raja Babylonia.
Bait Allah tidak ada lagi. Tetapi mengapa mereka tetap melanjutkan
kiblat tersebut ? Kita lihat bahkan seorang saleh macam Daniel juga
menjadi pelaku dari praktek ibadah ini (lihat Daniel 6:11). Dari sini
kita harusnya mengerti bahwa bukan eksistensi Bait Allah yang menjadi
penentu kiblat tetapi eksistensi dari Allah itu sendiri. Sekali lagi
dengan menyatukan arah ke Yerusalem, bangsa Israel hendak menyatakan
bahwa hanya kepada TUHAN sajalah mereka menyembah. Dan ini meyakinkan
diri mereka bahwa mereka telah menjadi penyembah-penyembah Allah yang
benar.

Praktek kiblat juga dibicarakan Yesus dalam percakapanNya dengan perempuan Samaria (Yohanes 4:19-26). Dari isi percakapan tersebut, kita mengetahui bahwa Yesus
juga menegaskan bahwa "Yerusalemlah tempat orang menyembah", bukan di
gunung Gerizim-nya orang Samaria, atau di Babel, atau di Roma, atau di
kota-kota dunia lainnya.

Kata perempuan itu kepadaNya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." (Yohanes 4:19-20)

Pernyataan Yesus ini menggambarkan sikapnya terhadap kiblat. Yesus tidak menolak kiblat. Tetapi apa yang hendak diajarkan Yesus ialah kiblat bukanlah penentu
seseorang menjadi penyembah yang benar melainkan hakekat, motivasi, dan
tujuan dari penyembahan itu sendiri yakni dalam roh dan kebenaran.
Itulah yang menentukan benar tidaknya ibadah kita. Demikian kata-Nya:

"Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa
dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah
demikian."
(Yohanes 4:23)

Akan tetapi Gereja menangkap apa dimaksud oleh Yesus adalah praktek kiblat tidak boleh lagi dilanjutkan dan sama
sekali tidak berguna. Demikianlah mereka berusaha membelokkan orang
percaya dari teladan para nabi, Salomo, Daniel, termasuk Yesus sendiri.

Kesimpulan

Yesus datang bukan untuk mengajar bahwa kita harus menghentikan tata-cara beribadah seperti yang ditulis dalam Taurat. Akan tetapi yang hendak disampaikan
oleh Yesus yakni terdapatnya praktek-praktek ibadah yang salah yang
dilakukan umat Israel. Dan hal inilah yang dikoreksi oleh Yesus. Ia
datang untuk mengajarkan kita hakekat yang benar dalam beribadah yaitu
dalam roh dan kebenaran.

"Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yohanes 4:24)

Dan apakah maksudnya dalam roh dan kebenaran itu ?

Maksudnya adalah supaya kita berpegang kepada Taurat TUHAN sebagai standar peribadatan kita, karena Taurat
adalah rohani (Rom 7:14) dan Taurat adalah kebenaran (Maz 119:142,151).

Catatan Kaki

  • Lihat tulisan saya yang berjudul "Taurat : Beban atau Sukacita ?".
  • Shemoneh Esrei awalnya hanya terdiri atas 18 macam doa/ucapan berkat. Tetapi setelah munculnya ajaran Kristus dan ajaran-ajaran lainnya yang sesat menurut
    pandangan kaum Farisi, rabbi Gamaliel II (abad pertama Masehi)
    menambahkan satu macam ucapan berkat lagi ke dalam Shemoneh Esrei yang
    disebut birkat ha-Minim. Min (jamak: Minim)
    adalah sebutan umat Yahudi bagi para pengikut Kristus. Kaum Nasrani
    tentu saja tidak menyertakan doa ini ke dalam Shemoneh Esrei mereka.

Views: 82

 

 

 


















 

LINKS

 

 

 

 

Badge

Loading…

© 2014   Created by James Trimm.

Badges  |  Report an Issue  |  Terms of Service