Nazarene Space

01-07-2007

Akar Penopang Seri 1: Gereja Tercerabut Dari Akar Ibrani
 
 
AKAR ITU YANG MENOPANG KAMU
Pemahaman Tentang Kembali Ke Akar Ibrani
[Rm 11: 16-24]


MENGAPA KEMBALI KE AKAR IBRANI?

Akhir-akhir ini, istilah “Back to the Hebraic Root”, [Kembali ke Akar Ibrani] telah menjadi
suatu istilah yang fenomenal dan bersifat khusus dikalangan
Kekristenan. Namun tidak banyak orang Kristen yang memahami betul
essensi dibalik istilah tersebut. Kebanyakan hanya memahaminya sebatas
mempersoalkan penggunaan nama sesembahan agama lain yaitu Allah yang
tercantum dalam Kitab Suci Kristiani dan menuntut penyebutan nama
Yahweh sebagai nama sesembahan yang benar. Demikian pula penggunaan
nama Mesias yaitu “Yahshua” atau “Yeshua”, dibandingkan dengan “Yesus”.
Apakah demikian batasan “Back to the Hebraic Root?” Kajian berikut
hendak mengupas secara seksama essensi “kembali ke akar Ibrani”,
sebagai bagian dari agenda pembaruan gereja di seluruh dunia, termasuk
di Indonesia.

Yang menjadi persoalan adalah, mengapa gereja sebagai komunitas umat
beriman yang memenuhi panggilan keselamatan Mesias, perlu untuk kembali
ke akar Ibrani? Paling tidak, ada beberapa alasan mendasar yang dapat
kita telusuri sbb :


GEREJA TERCERABUT DARI AKAR IBRANI
SELAMA 2000 TAHUN, SEHINGGA MENGALAMI DISORIENRASI SEJARAH


Gereja berakar pada Yudaisme. Kekristenan bukan suatu agama baru
melainkan salah satu sekte dalam Yudaisme yang dinamakan Sekte Netsarim
[Kis 11:19; 24:5]. Kesaksian sejarawan Epiphanius dalam bukunya yang
berjudul Panarion menuliskan:


“But these sectarians…did not call. They use not only the New
Testament but the Old Testament as well, as the Jews do…They have no
different ideas, but confess everything exactly as the law proclaims it
and in the Jewish fashion-except for their belief in Messiah, if you
please! For they acknowledge both the resurrection of the dead and the
divine creation of all things, and declare that God is one, and that
his son is Yahshua the Messiah. They are trained to a nicety in Hebrew.
For among them the entire Law, the Prophets and the Writings are read
in Hebrew as they surely are by the Jews. They are different from the
Jews and different from Christians, only in the following. They
disagree with Jews because they have come to faith in Messiah; but
since they are still fettered by the Law-circumcicion, the Sabbath and
the rest-they are not in accord wirh Christians…they are nothing but
Jews…They have the Goodnews according to Matthew in its entirety in
Hebrew. For it is clear that they still preserve this, in the Hebrew
alphabet, as it was originally written”.1

[Namun sekte ini…tidak menyebut diri mereka sendiri sebagai Kristen,
melainkan Nazarene…akan tetapi, mereka seutuhnya adalah orang-orang
Yahudi. Mereka tidak hanya menggunakan Kitab Perjanjian Baru namun juga
Kitab Perjanjian Lama sebagaimana mestinya, sebagaimana dilakukan oleh
orang-orang Yahudi…Mereka tidak memiliki pemikiran yang berbeda namun
mengakui segala sesuatu secara jelas sebagaimana Hukum menerangkannya
dan dalam pola pikir Yahudi-terkecuali kepercayaan mereka terhadap
Mesias, jika engkau berkenan! Sebab mereka mengakui baik kebangkitan
orang mati maupun penciptaan ilahi segala sesuatu, serta keesaan Elohim
dan Putra-Nya Yahshua ha Mashiah. Mereka dilatih secara menyenangkan
dalam bahasa Ibrani. Bagi mereka, baik Torah, Kitab Para Nabi dan
Tulisan hikmat dibaca dalam bahasa Ibrani sebagaimana dilakukan oleh
orang-orang Yahusi pada umumnya. Mereka berbeda dengan orang-orang
Yahudi maupun dengan orang-orang Kristen, hanya dalam cara
pelaksanaanya saja. Mereka tidak sependapat dengan orang Yahudi
dikarenakan mereka beriman pada Mesias; namun dikarenakan mereka tetap
mengikatkan dirinya melalui Torah – sunat, Sabat dan hari perhentian –
mereka tidak termasuk dalam Kristen…mereka adalah orang-oraang
Yahudi…Mereka memiliki Kitab Kabar Baik menurut Matius yang
keseluruhannya berbahasa Ibrani. Hal ini jelas bahwa mereka memelihara
kitab ini, dalam aksara Ibrani sebagaimana ditulis sejak semula]



Senada dengan keterangan diatas, Ray A. Pritz menjelaskan:


“The name Nazarene was at first applied to all Jewish followers of
Jesus. Until the name Christian became attached to Anthiochian non
Jews, this meant that the name signified the entire Church, not just a
sect. So also in Acts 24:5 the reference is not to a sect of
Christianity but rather to the entire primitive church as a sect of
Judaism”.2 [Nama Nazarene pada mulanya disematkan pada semua pengikut
Yahshua yang merupakan orang-orang Yahudi. Sampai akhirnya nama Kristen
menjadi bagian yang dikenakan pada orang non yahudi di Anthiokia,
istilah ini dimaksudkan bagi keseluruhan gereja dan bukan hanya sebatas
suatu sekte. Demikianlah dalam Kisah Rasul 24:5, petunjuk ini tidak
mengindikasikan suatu sekte Kristen melainkan seluruh gereja purba
sebagai sekte dari Yudaisme].


Sekte ini berpusatkan pada ajaran Yahshua yang dipercaya sebagai Nabi, Mesias dan Putra Yahweh
sendiri. Ada beberapa sekte dalam Yudaisme pada Abad I Ms, spt.
“Farisi”, “Saduki”, “Esseni”, “Zealot”. Secara umum, tidak ada
perbedaan diantara Sekte Netsarim dengan Yudaisme pada umumnya, baik
dalam Emunah, Avodah maupun Halakhah. Yang membedakan adalah pemahaman
tentang siapa Yahshua itu? Apakah Dia Mesias yang dijanjikan atau hanya
seorang anak tukang kayu?

Abad ke-II Ms, merupakan suatu era titik balik dalam sejarah gereja.
Terjadi perpindahan dari teologi Palestina yang kongkrit menuju Teologi
Greek yang abstrak.3 Hal ini terjadi dikarenakan semakin banyaknya
bangsa non Yahudi yang menerima Mesias, oleh pemberitaan para rasul.
Dalam perkembangannya, gereja semakin menjauh dari akar ibrani. Realita
ini memuncak pada saat Kaisar Konstantin naik tahta menjadi Raja dan
mengubah status Kekristenan dari “religio ilicita” [agama yang tidak
sah] menjadi “religio licita” [agama yang sah]. Peristiwa ini terjadi
pada tahun 312 Ms bersamaan dengan dikeluarkannya Edik Milano, dimana
Kekristenan diubah menjadi agama negara dan orang-orang Kristen Roma
diberi kebebasan penuh dalam melaksanakan peribadahan.3 Semenjak
Konstantin dan seterusnya, gereja non Yahudi semakin menjauh dari akar
Ibrani bahkan cenderung membenci keberadaan Yahudi, sebagaimana
dikatakan oleh sejarawan David Rausch, “The Gentile Church claimed to
be the true Israel and tried to disassociate itself from the Jewish
people early in its history”4 [Gereja non Yahudi mengklaim menjadi
Israel yang benar dan mencoba untuk memutus dirinya dari masyarakat
Yahudi dalam sejarahnya]


Footnote:
f1: DR. James Scott Trimm, What Is Nazarene Judaism?, 1997, www.nazarene.com
f2: Nazarene Jewish Christianity, Leiden: E.J. Brill, 1988, p.15
f3: Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen, BPK 1994, hal 51
f4: Harry R. Boer, A Short History of the Early Church, Grand Rapids
Michigan : William B. Eerdmans Publishing Company, 1986, p.105


Views: 385

 

 

 

















 

LINKS

 

 

 

 

Badge

Loading…

© 2017   Created by James Trimm.   Powered by

Badges  |  Report an Issue  |  Terms of Service